Home / berita umum / Jadi Loper Koran, Arif Menolak Menyerah Pada Keadaan Fisiknya

Jadi Loper Koran, Arif Menolak Menyerah Pada Keadaan Fisiknya

Jadi Loper Koran, Arif Menolak Menyerah Pada Keadaan Fisiknya – Semangatnya yang gak kenal batas mengantarkannya jadi orang yang gigih. Dibalik kekurangan pada fisiknya, pemuda di Kabupaten Kudus ini, usaha giat banting tulang jadi loper koran.

Dia alami kekurangan pada dua kakinya. Dengan situasi itu, dia menampik menyerah pada kondisi fisiknya. Dia jadi loper koran di pinggir jalan raya padat tiap-tiap hari. Dibawah ini kisahnya.

Yaitu Muhammad Arif, satu pada golongan disablitas di Kudus yang gigih bekerja. Pemuda asal Desa Krandon RT 5 RW 1, Kecamatan Kota, Kudus, ini gak sempat letih menjual koran dagangannya.

Cahaya mentari pagi yang perlahan-lahan meninggi, membimbing kursi roda punya Arif mendekati kaca suatu mobil. Selanjutnya, ibu itu memohon satu koran sambil keluarkan uang pecahan Rp 5 ribu, disodorkannya ke Arif. Selanjutnya, tangan Arif menyerahkan satu koran ke ibu itu. Dan terima uang dari ibu itu.

Arif keluarkan uang kembalian untuk diserahkannya pada penumpang mobil. Anak ke dua dari delapan bersaudara ini kembali memajukan laju kursi rodanya tawarkan koran lagi.

” Saya telah berjualan koran semenjak 2011 lalu sampai saat ini. Saya sudah gunakan kursi roda untuk berjualan koran. Hampir tiap-tiap pagi, saya jualan koran dipinggir jalan, ” papar Arif.

Tiap-tiap habis subuh, dia telah bergelut dengan tumpukan surat berita serta majalah di area Menara Kudus. Dia jual koran di dekat lampu merah Jalan Mangga dari waktu 06. 00-11. 30 WIB. Apabila Jumat, Arif jualan koran tidaklah sampai siang.

Dengan kendaraan roda dua yang dimodifikasi, Arif lakukan aktivitasnya ke sana kemari. Termasuk juga dari rumah ke tempat mangkalnya berjualan korban. Kendaraan roda dua adalah hasil pemberian dari satu grup sosial ditempat. Dan kursi roda ditaruhnya ditempat yang dipastikan di sepeda motornya.

Dari jualan koran, dia dapat menyimpan penghasilan bersih Rp 25 ribu-Rp 30 ribu perhari. Apa dia sempat ditindak petugas marena jualan di pinggir jalan? ” Alhamdulilah tak sempat terkena razia. Kalaupun saya dirazia, mereka yang normal jualan koran dipinggir jalan dapat terkena, ” tuturnya.

Lelaki yang baru menikah dengan sesama difabel ini menjelaskan, jual koran sama dengan memberikan pemahaman serta membawa penduduk membaca. Hal semacam itu dianggap dia menjadi aksi membawa penduduk cinta baca.

About admin

Judi Slot Online